Jangan Kembali Godot

image

Jangan Kembali Godot

Dusun sunyi. Senja. Dibawah sepohon kayu usang. Tak jelas antara bualan, gumaman, dan harapan. Menunggu godot.

Selayaknya vladimir, banyak di sekitar kita mereka yang hidup dalam dunianya yang absurd. Keabsurdan yang mereka ciptakan sendiri. Melepaskan mereka dari kesejatian realitas, yang seharusnya difahami dengan logika yang jernih. Dan sederhana. Tentu saja.

Mereka ini tenggelam dalam euforia imajiner. Menempatkan fiksi kedalam realitas kehidupan yang tidak sempurna. Lalu gagal memahami esensi.

Terkadang bukan tak difahami. Tapi seringkali sulit untuk mengakui. Dan melanjutkan mimpi menjadi jalan pintas tergampang untuk menghibur diri.

Dalam konteks kekinian. Mereka ini adalah yang meletakkan kepatuhan pada tokoh yang diciptakan. Loyalitas digadaikan pada orang per orang yang bersengaja dikultuskan. BUKAN PADA APA YANG DIPERJUANGKAN.

Dan kita bisa jadi adalah mereka.

Kita bersengaja lupa jika manusia adalah tak sempurna dan pelupa. Lalu hadirnya estragon kian menyempurnakan kokohnya tempurung untuk rumah bagi sang katak di luasnya cakrawala.

Maka jangan harap yang kalah mampu melihat gagahnya pundak pemenang untuk memikul beban. Dan konyolnya, tidak pula dapat berharap yang menang mampu merasakan luka di dalam tubuh mereka yang kalah.

Seperti kerbau yang dicokok hidungnya. Hanya melihat rupa saja, dan bebal rasa untuk memahami kemana dia harusnya melangkah.

Maka tak perlu heran sebaik apapun lawan mengajak pada kebaikan, yang terlihat tak lebih dari setumpuk tahi sapi dijalanan. Lebih gilanya lagi, sebusuk apapun kentut komandan, tetap saja tercium wangi seperti rerempahan

Maka akan teruslah terjadi saling memaki dan pembenaran diri.

Dan negeri ini tak akan pernah gagah berlari.

Dan sadarilah, utusan godot pasti akan datang kembali. Tak harus di dusun sunyi. Dibawah pohon berhelai lima yang hampir mati.

Disini….

Continue reading

Advertisements

Bharatayuda Jakawiyuda

BHARATAYUDA
JAKAWIYUDA

Hari ke 13. Percik darah masih segar di dinding kereta kencana. Dan pedang kembali terhunus. Mengacung lurus ke tengah medan tempur. Abhimanyu. Bharatayuda.

Putera Arjuna “dipaksa” mencium bendera. Untuk mengibarkannya di tengah lautan darah. Dalam pertempuran yang dia hanya tahu setengah. Ya mungkin setengahnya saja. Selebihnya adalah janji nakhoda. Untuk buritan yang selalu terjaga.

Musuh tak sebodoh yang dikira. Jalan yang terbelah dipotong. Menutup laju nakhoda. Perlahan bayang Abimanyu hilang dari ujung kelopak yudhistira. Menjemput ajal diujung pedang tombak gada apalah saja ; kereta kencana awalnya, lalu sais sumitra dan kudanya berdarah, terakhir pedang Abhimanyu berkeping terbelah oleh Drona, dan Karna melebur perisai yang tersisa.

Adakah Jokowi adalah Abhimanyu ? Mungkinkah masa Jokowi seperti medan baratayudha ? Mungkin saja.
Sepandai kurawa. Seolah Jayadrata.

Jika baratayudha. Entah Jokowi sudah di hari keberapa. Memisal Kurawa. Dan Jokowi “hampir” sendiri saja di medan Mahabarata ; pasukannya terhadang koalisi cerdik oposisi di DPR dengan jumawa. Pertempuran memasuki puncak histerianya. Lama.

Tentu saja. Senayan bukanlah arena baratayudha. Belum tahu persis mana kurawa. Siapa pandawa.

Jika dipaksa iya. Maka Tak hanya Arjuna dan Gatotkaca. Jokowi membutuhkan lebih dari Kresna. Arjuna terlalu dendam meski tahu peliknya cakravyuha dan jalan keluarnya. Gatotkaca hanya seorang yang tidak mengakhiri gemerlap cerita meski pamrihnya tiada dalam singgasana Hastina. Dan Kresna cemerlang menutup cerita terbunuhnya Jayadrata setelah ribuan luka disekujur punggawa dan rakyat jelata.

Jadi, tentu saja tidak cukup. Jangan banyak luka di tubuh anakanak bunda pertiwi. Jangan banyak airmata untuk berkibarnya Sang Saka.

Jokowi butuh Arjuna ‘sebelum’ Baratayudha. Kadang, sesekali tidak harus mendengarkan Sri Kreshna, apalagi jika Sri Wishnu hadir hanya untuk meyakinkan baratayudha.

Berharap Jokowi menggubah cerita. Menciptakan banyak semar dalam epiknya. Atau bahkan menjadi Semar itu sendiri. Meninggalkan dendam bersama pedang di halaman belakang. Setidaknya membiarkan pintu depan selalu terbuka menyambut Kourawa. Sesekali ‘kentut’ tak apa, jika itu menyadarkan mereka. Ya Mereka. Tak hanya Kurawa. Juga Pandawa dan balanya.

Lalu tak ada cerita tentang telah hari keberapa…

Dongeng saja…

jangan bingung kpr 2

Ah, mumpung ada waktu untuk kembali menulis, mari kita lanjutkan topik kpr kita sebelumnya….

Sedikit melompat-lompat ya kelihatannya pembahasan kita tentang kpr ini. Tapi saya pikir tidak masalah karena kita memang sedang tidak belajar dalam kurikulum. Jadi pembahasan saya sesaikan dengan topik yang paling banyak ditanyakan saja.

Kali ini saya akan coba mengajak bagaimana cara dan apa yang harus dibandingkan antara satu produk kpr dengan produk kpr lainnya.

Secara garis besar ada dua hal yang harus kita pertimbangkan sebelum memutuskan di bank apa kpr kita akan diproses.

Pertama, gampangnya, adalah faktor kualitatif. Adalah lazim jika penjual rumah umumnya meminta agar transaksi dilakukan secepat mungkin. Jangan sampai penjual kecewa dan menjual rumahnya ke orang lain hanya karena proses persetujuan kredit  KPR kita lama sekali. Jadi coba gali informasi mengenai service level dalam proses kpr masing2 bank. Dalam kompetisi yang ketat saat ini, rata2 bank menjanjikan keputusan kredit akan keluar 5 hari kerja sejak data lengkap mereka terima. Nah, pastikan ya bahwa saat pengajuan aplikasi semua data yang dibutuhkan untuk proses kredit sudah anda lengkapi, lalu mintakan komitmen.

Pikirkan juga bagaimana kemudahan bayar dan respon layanan Bank terhadap nasabahnya. Sungguh, pastilah menyebalkan jika kita dilayani dengan ketus dan separuh hati oleh officer suatu bank kan. Pilihlah bank yang memiliki jaringan yang banyak dan kemudahan cara bayar, sehingga anda tidak perlu antri atau repot untuk melakukan pembayaran cicilan setiap bulannya. Lalu, pertimbangkan promo2 yang bisa jadi sedang atau akan dijalankan oleh bank, siapa tahu ada banyak kemudahan atau benefit lebih dibanding periode normal. Lumayan kan kalo bisa dapat gift2 yang menarik…. kecuali kalau promonya cuma ngasih pulpen thok…yo wis… tinggal kabur aja. Terakhir adalah kemudahan/fleksibilitas dalam skema pembiayaan yang ditawarkan. Misalnya, apakah bisa bayar cicilan bunganya saja dulu (bubble/grace period), apakah DP bisa lebih kecil / LTV 100% (umunya Dp adalah 20%, namun saat promo bisa cuma 5% atau 0% lho), apakah biaya2 kpr dapat diperhitungkan dalam plafond (dimasukkan sebagai pokok hutang, jadi biaya kpr yang harus dibayar dimuka menjadi super ringan).

 Kedua adalah faktor kuantitatif. Nah ini yang biasanya menarik karena menyangkut duit. Biaya kpr, gampangnya, terbagi 2 yaitu biaya yang dipungut untuk masuk kantong bank (sebagian dan seluruhnya), dan kedua biaya yang dipungut untuk diteruskan kepada yang berhak. Jadi nanti mudah2an jelas ya kemana harus nego, jangan sampe nego biaya notaris ke bank… mana ngarti atuh banknya…

Biaya kategori 1 meliputi : Bunga, provisi, administrasi, asuransi, dan penalty (untuk case pelunasan lebih awal).

Bunga. Kita tidak akan membahas bunga secara detail ya, tapi saya coba jelaskan saja hal2 yang penting diperhatikan terkait dengan bunga. Untuk urusan bunga ini, jangan gampang tertipu dengan suku bunga fixed yang rendah. kenapa ? karena suku bunga ini rata2 hanya berlaku pendek saja yatu 6 bulan, 1 tahun, atau 2 tahun. Jadi fokuslah pada suku bunga floating, yaitu suku bunga riil yang akan dikenakan selepas masa bunga fix selesai, sepanjang usia kredit. Jangan sampai 6 bulan pertama kita ngangsur 1 juta, lalu bertahun tahun berikutnya jadi 1,4 juta ya…bisa step nanti dan kagak bisa napas hehehe… karena biasanya tanpa persiapan. Karena itu pelajari dengan seksama bagaimana trend suku bunga masing2 bank, lalu pilihlah yang konsisten dalam range murah. Eh, kadang kadang ada bank yang bisa di nego bunganya loh…. jadi iseng2 aja coba tawar…

Provisi. Lazimnya biaya ini sekitar 1%. Namun, biaya ini seringkali masih terbuka untuk negosiasi, tergantung siapa kenalan kita, apakah kita menjadi nasabah prioritasnya, apakah kita punya fasilitas kredit lainnya (diluar kartu kredit ya), apakah kita punya aset tabungan yang besar, atau apakah plafond kredit kita tergolong besar… Meski demikian, tidak ada salahnya kok melakukan penawaran… apalagi kalau kita punya bukti penawaran dari bank lain yang menunjukkan provisi rendah, pasti lebih gampang.

Administrasi. besarnya sekitar 300 s/d 750 rb saja. Sama juga sih…masih dimungkinkan untuk negosiasi

Asuransi. Loh ini kan sebenarnya biaya pihak ketiga (maskapai asuransi) ? gimana bank bisa memberi diskon? simple kok, maskapai asuransi lazimnya memberikan diskon premi kepada bank untuk setiap aplikasi. Diskon ini oleh bank bisa diberikan ke nasabah ataupun diambil sendiri sebagai pendapatan. Bisa juga diskon ini diberikan sebagian saja ke nasabah. Berapa besarnya diskon dari asuransi ke bank? wah ini belum enak kalau saya ungkap langsung, kalau pengen tahu di email saja ya…via japri. O iya.. terkadang bank mau kok meniadakan asuransi jiwa, walaupun kita belum memilikinya sama sekali. Tapi resiko ditanggung nasabah dimana kalo mati, maka rumah akan disita dan dijual oleh bank untuk melunasi sisa kredit. Kasihan anak bini kan ?

Penalty. Nah ini sebenarnya biaya yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang karena baru akan muncul kalau ada pelunasan dipercepat saja. Padahal sebagian besar orang pada mau melakukan pelunasan jika kondisinya lebih lapang kan?  pas mau melunasi baru deh teriak hehehe…. Biaya ini besarnya antara 2 s/d 5% dari sisa pokok kredit. lumayan kan bisa jutaan juga itungannya. Jadi gak ada salahnya kan menanyakan biaya ini ke bank ybs dan sip banget jika bisa bebas penalty

Selanjutnya biaya kategori kedua meliputi : biaya notaris, Pajak jual beli, Akte Pengikatan Hak Tanggungan, dan appraisal.

Biaya notaris nego langsung aja ke notarisnya ya dan besarannya tergantung dari besarnya plafond kredit. Masih bisa kok dinego ke notarinya.

APHT tergantung besarnya nilai pengikatan, Pajak Jual beli masingmasing 5%, dan appraisal tergantung luas tanah. Biaya biaya ini tidak dapat dinego. Jadi percuma diomongin deh, ampe nangis juga gak akan bisa.

Terakhir ya, biar bisa dapet biaya murah atau bahkan kombinasi dengan gift, coba tanyakan program promo ke banknya. Biasanya bank bank sesekali melakukan promo, misalnya penurunan bunga, bebas provisi, bebas asuransi, bebas administrasi, dp rendah, dan dapet gift lagi….

Oke, cukup dulu untuk kali ini. Nanti kita sambung dikesempatan berikutnya.

Salam,

 

 

Jangan Bingung KPR

Ngomongin KPR memang gak ada habinya deh kayaknya. Sejak orang banyak tahu saya pernah menggeluti KPR, sejak itu pula banyak pertanyaan seputar KPR yang mampir di HP saya. Hmmm… asyik juga sih, karena bisa membantu kebingungan mereka seputar proses KPR.

Berjalannya waktu, akhirnya kepikiran juga, kenapa gak saya tulis saja supaya lebih banyak lagi orang yang bisa tahu dan gak bingung lagi. yaa… itung-itung berbagi dan beramal lah…

Jadi sekarang saya coba berbagi seputar pertanyaan KPR yang seringkali muncul dan ditanyakan oleh teman dan kolega-kolega saya.

Kenapa jaminan saya di tolak ya ?

Ada dua pertimbangan bank dalam memutuskan untuk menerima atau menolak agunan kpr. pertama adalah sisi legalitas baik kepemilikan dan peruntukkan, maupun sisi komersialnya. Oleh karena itu, bank pastinya (“seharusnya”) telah melakukan study terlebih dulu terhadap bakal jaminan tsb, sebelum memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Jadi, sebenarnya, untuk beberapa case, kita harusnya berterima kasih kepada bank jika menolak jaminan yang kita ajukan. Karena bisa jadi ada yang hal yang “aneh” yang tidak kita ketahui yang membuat suatu jaminan tidak bankable. Dan kita lepas dari potensi kerugian di masa mendatang. Proses “mengamankan” agunan ini dilakukan bank baik dalam tahap proses kredit hingga saat dilakukan akad kredit (penentuan syarat dan pihak yang wajib hadir atau menandatangani peralihan hak jaminan)

Sekarang kita coba breakdown satu per satu ya.

Pertama legalitas kepemilikan dan peruntukkan jaminan. Konsen bank dalam case ini adalah meyakini bahwa sepanjang umur kredit, jaminan aman dimana secara legalitas tidak menimbulkan sengketa dan secara fisik masih akan terus berdiri (dalam kondisi normal) sehingga kagak rugi.

Untuk itu, lalu bank akan melakukan pengecekan agunan ke berbagai pihak ketiga yang relevan memberi informasi antara lain Kelurahan, BPN, dinas tata kota, dan notaris. Dan jangan lupa juga bahwa bank sendiri memiliki database informasi mengenai agunan, khususnya area agunan yang saat ini sudah (pernah) mereka miliki.

Kebayang gak sih kalau cases seperti ini menimpa kita :

  • membeli rumah yang sedang dipersengketakan (didaftarkan untuk sengketa) di pengadilan.
  • membeli rumah ternyata sertifikatnya ada dua atas nama berbeda
  • setelah jual beli, beberapa waktu kemudian ada tuntutan atas hak tanah dari pihak keluarga penjual
  • rumah yang dibeli terpaksa diibongkar karena tidak sesuai peruntukkannya. Atau mungkin ijin peruntukkannya bodong, nah lho kok bisa ?

saya sharing satu case yang lagi marak ya di daerah selatan jakarta. Di wilayah ini, banyak area yang masuk dalam kategori “wisma taman”. Kategori ini mensyaratkan komposisi maksimal luasan tanah yang boleh tertutup bangunan, misalnya 80:20. Artinya hanya 20% dari luas tanah yang boleh ditutup dengan semen (bangunan).

Tapi kok rumah saya ada keluar IMB-nya walaupun hampir semua tanahnya tertutup bangunan dan masuk kategori wisma taman ?

Yuup….. selalu ada cara bagi setan untuk berbuat jahil ya hehehehehe….  Hal ini bisa terjadi karena pengembang setan ini membuat IMB terlebih dulu sebelum dilakukan pecah sertifikat (kavling kecil). Masih bingung ? oke, detailnya begini, misalnya pengembang punya tanah 1.000M2 dalam 1 sertifikat tanah. Berdasarkan sertifikat ini, pengembang mengajukan IMB. lalu keluar dong IMB dengan ijin luas 400M2 (2 lantai. 1 lantai luasnya 200M2 = 20%). Setelah IMB keluar, pengembang melakukan pecah sertifikat menjadi kavling kecil. Selanjutnya rumah dibangun dengan IMB awal ini tadi. Jadi jelas salah kan, dan wajar saja kalau kemudian ada operasi dari pemda, tuh rumah bisa dibongkar… yaaa setidaknya bisa diperas sama oknum kali heheheh…. sssstttt

Kedua adalah tentang sisi komersial agunan. Resiko kedua suatu jaminan adalah adanya potensi penurunan nilai dimasa datang sehingga nilai likuidasi (saat terpaksa) tidak sebanding dengan sisa outstanding hutang. Kenapa suatu persil bisa turun nilai komersialnya?

Ada beberapa faktor yang dapat menurunkan nilai komersial suat persil, yaitu ,

  1. Rencana tata kota yang akan membatasi akses (cepat) ke persil. misalnya penutupan jalan, pembangunan jembatan (layang), pemindahan rute angkutan
  2. Perubahan peruntukkan area sekitar persil. Pasti kita semua akan menjawab dengan yakin bahwa daerah komersial (untuk lokasi perdagangan) harganya lebih tinggi dibanding sektor hunian kan. Beberapa situasi ternyata anomali  juga lho. Persil di jalan utama Pondok Indah (yang banyak berubah menjadi toko atau kantor)harganya pernah jatuh dan harga persil di daerah yang bukan jalan utama (hunian) malah naik. Ada juga daerah yang harganya langsung terjun bebas karena menjadi daerah cagar budaya.
  3. Banjir. Nah ini yang yang merepotkan deh. beberapa appraisal bisa membaca titik-titik potensi banjir dengan adanya perkembangan pembangunan di sekitar persil, dll

Nah, setelah tahu apa saja kerja bank dalam mengolah jaminan, mudah mudahan sudah punya bayangan ya kenapa kpr kita ditolak oleh bank dengan alasan agunan. Jadi gak lagi langsung sewot dan marah-marah, apalagi malu.

Lain waktu saya akan sambung lagi ya cerita kpr-nya, tentu saja sebatas pengetahuan saya…. heee

Salam,

Syafriadi